LAMPUNGVERSE.com – Dalam khazanah literasi Islam Nusantara, nama Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani (1813-1897) menempati posisi yang sangat istimewa.
Mengutip dari berbagai sumber, Salah satu buah pikirannya yang paling berpengaruh dan masih dipelajari hingga hari ini adalah Kitab Nashoihul ‘Ibad.
Secara harfiah, Nashoihul Ibad berarti “Nasihat-nasihat bagi para hamba”. Kitab ini sering dianggap sebagai panduan agar manusia selalu berada dalam Ridha-Nya.
Bukan sekadar buku teks biasa, kitab ini merupakan kompas spiritual yang membimbing umat Islam dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah mati.
Jembatan Hikmah dari Dua Ulama Besar
Secara teknis, Nashoihul ‘Ibad merupakan sebuah syarah atau penjelasan mendalam atas kitab al-Munabbihat ‘ala al-Isti’dad li Yaum al-Ma’ad. Kitab aslinya disusun oleh ulama hadis legendaris, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani.
Syekh Nawawi dengan piawai menjabarkan poin-poin peringatan dari Imam Ibnu Hajar, memperkayanya dengan narasi yang relevan tanpa menghilangkan esensi aslinya.
Kolaborasi lintas zaman ini menghasilkan panduan praktis namun sarat akan makna filosofis. Struktur dan Kandungan Spiritual
Kitab ini disusun secara sistematis untuk memudahkan pembaca meresapi setiap nasihatnya.
Berikut poin utama yang menjadi kerangka kitab ini:
Komposisi Bab: Disajikan dalam 10 bab utama yang mencakup total 1.072 nasihat (dalam beberapa literatur dirangkum menjadi 214 poin inti).
Sumber Rujukan: Setiap nasihat berpijak pada fondasi yang kuat, mulai dari ayat Al-Qur’an, Hadis Nabi, hingga perkataan (maqolah) para sahabat dan ulama salaf yang bijak.
Misi Penulisan: Syekh Nawawi menyusun kitab ini dengan tujuan menjaga kemurnian ajaran Islam klasik agar tetap bisa diamalkan oleh generasi setelahnya sebagai bekal meraih keberkahan di dunia maupun akhirat.
Warisan Literasi: Dari Pesantren hingga Al-Azhar
Dedikasi Syekh Nawawi yang pernah menjabat sebagai Imam di Masjidil Haram, Makkah, membuatnya dijuluki sebagai “Bapak Kitab Kuning Indonesia.”
Pengaruhnya pun melintasi batas negara.
Hingga saat ini, Nashoihul ‘Ibad tidak hanya menjadi kurikulum wajib di ribuan pesantren di seluruh penjuru Indonesia, tetapi juga diakui sebagai rujukan ilmiah di institusi pendidikan Islam ternama dunia, seperti Universitas Al-Azhar, Mesir.
Bagi masyarakat modern, Nashoihul ‘Ibad tetap relevan sebagai “obat penawar” di tengah hiruk-pikuk dunia, mengingatkan kembali bahwa persiapan spiritual adalah investasi terbaik bagi setiap insan.
Profil singkat Syekh Nawawi Al Bantani
Nama yang dikenal di Arab: محمد نووي بن عمر الجاوي
Kelahiran: 1813 Masehi; 1230 H, Tanara, Banten, Indonesia
Meninggal: 1897 M; 1316 H, Pemakaman Ma’la Makkah Al-Mukarramah, w. 672 H /22 Februari 1274 M
Penerjemah: Bidang studi: Tasawuf, Akhlaq
Guru beliau antara lain: Khatib asy-Syambasi, Abdul Ghani Bima, Ahmad Dimyati, Zaini Dahlan, Muhammad Khatib, KH. Sahal al-Bantani, Sayyid Ahmad Nahrawi, Zainuddin Aceh
Murid beliau antara lain: KH. Hasyim Asyari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Khalil Bangkalan, KH. Asnawi Kudus, KH. Mas Abdurrahman, KH. Hasan Genggong, Sayid Ali bin Ali al-Habsy. (*)


