RELIGI

Sejarah dan Kisah Unik Masjid Tertua di Lampung, Dipindahkan Dengan Cara Digotong

×

Sejarah dan Kisah Unik Masjid Tertua di Lampung, Dipindahkan Dengan Cara Digotong

Sebarkan artikel ini
Masjid Jami Al Yaqin, Jalan Raden Intan, Seberang Kantor Wilayah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kecamatan Enggal, Bandar Lampung. Foto: Virgo

LAMPUNGVERSE.com – Masjid Jami Al Yaqin, yang berdiri sejak tahun 1808, merupakan masjid tertua di Provinsi Lampung, yang berlokasi di Jalan Raden Intan, beseberangan dengan kantor wilayah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kecamatan Enggal.

Menurut Ketua ta’mir masjid Al Yaqin, Rahmat Nur, masjid ini memiliki sejarah panjang yang dimulai sebelum letusan Gunung Krakatoa pada tahun 1883.

Awalnya pada 1808 masjid ini didirikan dalam bentuk surau yang terbuat dari bambu dengan atap rumbia yang berlokasi di sekitar pasar bawah yang saat ini disebut swalayan Ramayana Tanjungkarang.

“Lokasi awalnya berada di simpang empat Pasar Bawah, dulu bioskop raya, sekarang swalayan Ramayana Tanjungkarang,” ujar Ustaz Rahmat kepada lampungverse.com, Jumat (20/2/2026)

Ia menambahkan, pada 1882, bangunan tersebut diperluas menjadi mushola. Pembangunan mushola ini diprakarsai oleh para perantau asal Bengkulu yang tinggal di Tanjungkarang.

Kemudian, bulan September 1912, bangunan mushola dipindahkan secara gotong royong oleh warga sekitar, Uniknya, pemindahan masjid dilakukan dengan cara digotong beramai-ramai, dari Ramayana ke lokasi saat ini berjarak sekitar 300 meter.

“Iya digotong ramai-ramai. Diletakan di tepi sungai, sekarang jadi tempat wudhu masjid Al Yaqin. Nah, bangunanya diperluas dibuat semi permanen, dan permanen sampai sekarang,” terangnya.

Lokasi masjid saat ini bersebelahan dengan tanah milik almarhum Haji Muchyiddin dari suku Lampung dan almarhum Haji Muhammad Yaqin dari suku Bengkulu, pewakaf masjid Al Yaqin.

Ustaz Ahmad menjelaskan di lokasi yang baru, masjid ini diberi nama Masjid Perdana, nama masjid diambil dari nama bengkel pedati terkenal saat itu, yang lokasinya tidak jauh dari masjid Al Yaqin.

“Karena ada bengkel pedati, kuda itu, terkenal di sini, namanya Perdana, jadi namanya Masjid Perdana,” terangnya.

Kemudian, karena masjid belum dilengkapi penunjuk waktu, warga membuat jam matahari di depan masjid Yaqin sebagai penanda waktu salat.

“Jadi, ini dibangun dari awal masjid di sini, untuk mengetahui waktu salat, kalau waktu dzuhur masuk tandanya melewati garis sedikit,” tukasnya.

Sementara itu, Haji Daswin Zainudin, salah seorang warga setempat yang kakeknya menjadi saksi pemindahan masjid Al Yaqin, menjelaskan, pemindahan masjid dilakukan tidak sampai 30 orang, karena saat itu bangunan terbilang ringan.

“Gak sampai 30 orang, enteng itu, orangnya juga kuat-kuat. Mereka semangat karena membawa rumah ibadah,” kata Daswin.

Ia menambahkan, pada tahun 1923, masjid ini diperluas menjadi bangunan dengan ukuran tanah sekitar 30 x 37 meter dan luas 1.107 meter persegi.

Saat itu, bangunan masih semi permanen dengan dinding setengah bata dan atap genteng, tanpa kubah atau menara.

Lalu pada 1965, nama masjid diubah menjadi Masjid Jami Al Yaqin atas usulan Konsulat Jenderal Kedutaan Kerajaan Arab Saudi, Haji Umar Murot.

Perubahan nama ini menjadi penanda sejarah baru bagi masjid yang terus menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat Lampung.

Keberadaan Masjid Jami Al Yaqin tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol persatuan dan warisan budaya yang terus dijaga oleh generasi-generasi berikutnya. (Virgo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *